Fanny
menelungkupkan wajahnya dan membungkus tubuhnya dengan selimut tebal
favoritnya. Gadis itu telah terdiam sejak beberapa belasan bahkan puluhan menit
yang lalu. Hingga akhirnya tangisnya pun pecah, tak mampu lagi ia menahannya. Air
matanya membanjiri relung hatinya yang mengering lantaran merindukan seseorang
yang terbiasa mengisi perasaannya. Kedua bahunya itu bergerak naik turun karena
sesenggukan. “Ah, masa bodoh.” Ucapnya pada diri sendiri. Ia tak peduli lagi
tangisnya akan meledak dan terdengar oleh tetangga apartemennya. Toh, gadis itu sudah menyalakan sebuah
musiK keras-keras—tapi tidak terlampau keras.
- October 18, 2014
- 0 Comments




