- January 31, 2015
- 0 Comments
Jongin gusar. Entah sudah keberapa kali pria itu menekan tombol call di ponselnya, dengan nomor tujuan yang lagi-lagi masih sama. Jam telah menunjukkan pukul delapan malam, namun wanita yang sedari tadi berusaha ia hubungi tetap tak ada kabar sama sekali seharian ini.
“Ah, dimana sih dia.” Rutuknya.
Dengan wajah gelisah, lelaki itu beringsut berdiri dari sofa yang semula ia duduki beberapa saat. Meninggalkan bentuk U sekilas di sofa tersebut. Lagi-lagi ia memanggil nomor tujuan yang sama, namun hasilnya pun masih saja nihil. Jadi lelaki itu akhirnya memanggil nomor tujuan lain, setelah menunggu beberapa saat ia mendengar jawaban, hatinya lega untuk sesaat.
- January 16, 2015
- 0 Comments
-o-
Pernahkah kau mersakan kerinduan teramat sangat pada seseorang yang telah meninggalkanmu? apakah kerinduanmu itu hingga mencapai level, ketika kau tak dapat lagi membedakan nyata dan tak nyata, setinggi yang kualami?
-o-
Aku masih menatap langit-langit kamarku. Merasakan hawa kamar yang terasa
lebih lenggang dari biasanya. Sangking lenggang dan sepinya, detikan jam pun
dapat kudengar. Ditempat tidur ini, masih dengan selimut yang memelukku, aku
beralih melihat potret aku dan kau yang Nampak bahagia di dalam bingkai perak,
sebahagia bunga bermekaran yang menjadi setting foto kita waktu itu.
- December 26, 2014
- 0 Comments
Suasana kelas sepi sekali, Teacher tidak memberiku kesempatan apapun untuk bergerak, bahkan sekedar memainkan pensil sekalipun. Tetapi aku sangat bersyukur aku masih boleh menguap atau sekedar menghembuskan nafas lumayan keras. Ketika kulihat sekeliling, aku sadar tak hanya diriku yang merasa bosan.
- November 30, 2014
- 0 Comments
=========================================================================
“Jadi bagaimana kabar hidupmu
sekarang, mas?” tanyaku padanya malam itu.
“Yah, seperti yang kau lihat detik
ini. aku masih sehat wal afiat dan masih tetap tampan.”
“Ah, kau ini!” jawabku dan meninju
pelan lengannya yang terlihat lebih berisi dan padat. Pasti dia rajin membentuk
otot-otot itu sekarang.
Aku bertemu kembali denganmu,
disebuah persimpangan jalan. Kau yang tak sengaja menemukanku berjalan seorang
diri hendak masuk di kedai kopi langgananku pun ikut beralih mengekoriku masuk
kedalam kedai itu.
“Wah, aku kangen momen kita waktu
ngopi disini.”
“Hah? Kita?”
“Ya, kita…” kau berhenti sesaat
sembari memandangku.
- November 08, 2014
- 2 Comments




