- August 25, 2014
- 0 Comments
===================================================================
Please don’t be in love with someone else, please don’t have
somebody waiting on you – Taylor Swift, Enchanted-
Malam
ini aku merindukan seseorang. Ya, seseorang yang dapat memancarkan cahaya
secerah mentari namun dapat membekukanku ketika berhadapan dengannya. Seseorang
pemilik mata indah yang membuatku mencandu untuk menatapnya. Dan lengkung
senyuman khas pemancar pesona rembulan yang membuat mataku tak mampu beralih
menatapnya hingga aku pun selalu tertular olehnya, yang membuatku
memfavoritkannya
Dia
satu-satunya yang sukses membuatku meleleh untuk apapun yang ia miliki.
Senyumnya
hingga tawanya yang terbahak-bahak dan lebar,
Ketika
lelaki itu tertawa sangat lebar, aku selalu merasakan angin disekitarku
berhenti. Seakan menyaksikan diriku yang terpana olehnya.
Ekspresi
mengantuknya,
Wajah
seriusnya ketika menari maupun ketika berusaha memenangkan sebuah game online,
- August 25, 2014
- 0 Comments
==================================================================
Hari senin bisa jadi hari yang
menyebalkan bagi sebagian besar orang. Tanpa tanggung-tanggung, hari senin pun mendapatkan
sekelompok pembenci dari berbagai golongan mulai dari pelajar hingga pekerja. Namun
hari senin di minggu ini berbeda denganku, memang aku merasakan beban berat
jika harus berhadapan dengan hari ‘sakral’ ini. Dimana aku harus meninggalkan
waktu santaiku dan memulai kembali aktivitas rutinku, bertemu dengan bos
dikantor yang killer hingga
orang-orang disekitarku yang sebenarnya sangat malas untukku bertemu.
Baiklah, kembali lagi ke topik
sebelumnya. Tentang mengapa senin pagiku hari ini berbeda. Aku, seorang pria
berusia di awal 30an, bertemu dengan seseorang yang mampu menarik perhatianku
sepenuhnya. Setelah sekian lama, aku kembali merasakan degupan jantungku yang menaik juga aliran darahku yang mengalir
dengan deras namun acak, bagaimana tidak? Kupikir disaat seperti ini darahku
mengaliri bagian-bagian tertentu dari tubuhku saja, wajahku dan telingaku.
Pagi ini takdir mempertemukanku
dengannya. Semuanya terjadi secara tak terduga dan cepat. Dia adalah seorang
gadis, nampaknya usianya lebih muda dariku. Kalau boleh kusimpulkan dari
penampilannya, Ia tak tampak seperti seorang pekerja mungkin lebih mirip
seorang mahasiswi semester akhir. Penampilannya sederhana. Hanya jeans hitam,
sebuah blouse dengan corak bunga, dan sebuah tas punggung kecil, ah dan sepatu
mini boots.
Gadis muda itu nampak membaca sesuatu
sembari mendengarkan lagu. Seberapa pun aku mengobati rasa penasaranku tentang
buku itu, aku tak bisa membacanya terlebih mengetahui artinya. Mungkin itu
bahasa Jerman atau Perancis. Entahlah, yang pasti bukan merupakan bahasa
Inggris apalagi Indonesia.
Sama sepertiku, ia sedang menunggu
sebuah bus datang menghampiri kami dan beberapa orang di halte bus saat ini.
Pandanganku terasa tak dapat lepas darinya meskipun beberapa kali aku mencoba
menahannya, tetap saja mata ini beberapa kali melirik kearahnya. Syukurlah,
hingga saat ini aku tidak ketahuan. Oh iya, aku juga sangat menyukai make up
gadis ini. Ia hanya mengenakan bedak tipis dan bibirnya berwarna oranye lembut.
Ayolah, aku tahu meskipun seorang wanita tampak seperti tidak mengenakan
makeup, sebenarnya mereka tetap memakainya, kan? Aku tahu betul, karena
keluargaku di dominasi oleh para perempuan, hanya aku dan papa saja yang
berjenis kelamin lelaki.
“Hey, Bung? Tumben sekali kamu bangun
pagi”
Sial!
Seseorang yang kuanggap virus pagi ini
tiba-tiba muncul dan semena-mena merusak suasana hatiku. Dandi, pria yang
kumaksud, tiba-tiba menepuk punggungku dan menyapaku dengan keras hingga
membuat beberapa orang di halte ini menoleh kearah kami …. termasuk gadis itu.
Bagaimanapun juga aku berterimakasih
pada Dandi pagi ini, berkatnya, aku dapat melihat langsung kedua mata gadis
itu. Kami sempat beradu tatap selama dua detik—meskipun sebentar namun sangat
berharga buatku dan cukup membuatku salah tingkah.
“Kamu ganggu aja, Dan.” Ujarku meninju
Dandi untuk mengusir kecanggunganku karena dua mata gadis itu.
- July 19, 2014
- 0 Comments
Casts: Ahn Seung Ah,
Kim JoonMyun, Kim MinSoek, Do Kyungsoo, Kim JongDae
==============================================================
Apakah ini semua mimpi?
Demi
Tuhan, kepalaku masih pusing, aku masih berjalan tanpa arah dan merasa linglung
dengan tiap langkah yang aku ambil. Sekelilingku nampak asing, namun aku masih
belum mengerti ini semua. Tiba-tiba diantara semua keanehan aku melihat sosok
familiar. seorang lelaki. Aku segera berjalan cepat menghampirinya.
“D.O?
Kau D.O, kan? Kau masih ingat aku?” Aku mendekati lelaki yang memakai blazer
seperti seragam sekolah itu. Aku yakin aku mengenalnya dengan dekat.
“D.O?
Siapa itu D.O? aku Kyungsoo, sunsaenim.”
SUNSAENIM????????
“Sunsaenim
katamu?”
“Iya,
Sunsaenim. Kenapa? Oya, aku ada acara jadi harus segera pulang. sampai jumpa
besok di sekolah, Sunsaenim. Aku pamit.”
Kemudian
D.O yang wajahnya nampak lebih muda dari yang kukira itu membungkuk beberapa
kali sembari berjalan mundur meninggalkanku.
- June 10, 2014
- 2 Comments
===================================================================
~*0*~
A
dream is a wish your heart makes –Walt Disney-
~*0*~
Kau
pikir aku tak tahu apa-apa soal kamu? Kau salah. Aku bahkan tak sengaja
menemukan buku diarymu ketika kau mandi, dan disana kutemukan mimpi yang kau
miliki sejak sekolah dasar tingkat 5.
Aku masih terpikir oleh
kata Hyuk Jae semalam melalui telepon yang langsung menohokku ketika ia berniat
mengantarku meraih mimpiku yang satu ini. Hyuk Jae, aku adalah fans-nya dan dia
adalah idolaku. Kami sangat dekat dan dia selalu ada untukku. Sepertinya bisa
disimpulkan, dia adalah satu-satunya sosok yang akan datang padaku secepat
angin kapanpun aku membutuhkannya di sisiku. Yah, kecuali ketika ia sedang
memiliki jadwal manggung.
Hyuk Jae ini adalah
sosok yang sangat percaya pada keoptimisan dan mimpi. Yang mana dua hal yang ia
pegang teguh itu lah yang menjadi alasan mengapa aku terus menempel padanya dan
menjadikannya sebagai idolaku.
***
- May 19, 2014
- 2 Comments




